LareOsing.Org

Komunitas Lare-lare Banyuwangi

Pantai Grajagan

Kawasan Wisata Pantai Grajagan atau lebih dikenal di dunia luar G-Land ini mempunyai banyak ragam ke eksotikan. Pantai yang terletak ke kecamatan Purwoharjo ini bisa di tempuh sekitar 10 Km dari pusat Purwoharjo. Tempat wisata ini ramai dikunjungi pada Hari minggu atau lebih tepatnya Hari Raya Idul Fitri. Berbagai Acara ada disini, mulai dari Lomba Cross, Hingga Hiburan Dangdut.

Di Desa Grajagan sendiri di huni puluhan KK, mata pencaharian mereka adalah Nelayan.


Tradisi Manten Kucing

Salah Satu Tradisi Adat penduduk Curah Jati Purwoharjo Banyuwangi ini sedikit Unik. Untuk menangkal ancaman kekeringan Bertanam di sawah, mereka menggelar Ritual Menikahkan Kucing.

Sumber foto detik.com


Eksistensi Sebuah Masjid

“sebuah monument akan mati ketika ia ditinggalkan para penafsirnya”

Masjid, jelas bukan hanya sekedar monument. Ia berdiri sebagai pusat. Kala itu, ketika untuk pertama kalinya tiba di Madinah, langkah pertama yang dilakukan Muhammad saw adalah mendirikan masjid. Ia meletakkan sebuah control, sebuah pusat dari komunitas yang telah sekian tahun hidup liar.

Di masjid orang bersembahyang. Di masjid juga orang berlatih perang, berdiskusi, merumuskan konstitusi, menerima utusan negri. Dan ia kiblat bagi seluruh dinamisme social.

Dengan tegas, Muhammad saw meletakkan masjid bukan hanya sebagai tempat pasrah ketika putus asa, atau tungku kremasi bagi orang yang terlalu banyak dosa. Menurut bahasa awalnya, masjid adalah tempat bersujud. Dimana seorang meleburkan dirinya dalam eksistensi tanpa batas. Sujud, sebagai orgasmus dari pendakian yang lepas dari tempo.

Disini, masjid melesat pada taraf kesucian tunggal. Ia mengejawantah dalam arti yang sebenarnya tentang Tuhan dan seluruh eksistensi yang menjembataninya dengan manusia yang penuh batas. Maka bahasa Indonesia cenderung menerjemahkannya dengan rumah tuhan, dengan kadar dominasi lebih tinggi dari rumah ibadah lainnya.

Menara yang menggaet langit, ornamen bulan sabit, daun pintu dengan lengkungan pucuk atas. Semuanya bertetak pada “Yang di Atas”. Sebuah orkestra tentang Yang paling segala.

Diatas semua itu, masjid selalu ada di bumi. Ia bukan hanya symbol tentang Yang di Atas, tapi juga tentang Yang selalu dekat. Ia disebut sebagai rumah Tuhan, tapi ia dibangun dengan tetes keringat dan, kadangkala, darah manusia. Maka ia juga rumah manusia.

Gambar di depan saya ini sudah mulai buram. Sebuah foto tentang masjid dengan kubah hijau di atasnya. Pelataran yang runtuh sebagian. Seperangkat dinding yang keropos disana-sini. Di bagian bawah tertulis dengan font indah, al-Aqsha.

Bukti sejarah mencatat masjid bukan sebuah orname-ornemen sejarah kota melainkan bukti dan saksi sejarah kemajuan kota.


LareOsing Bali Mengunjungi Panti Asuhan

Dengan Segala Kerendahan dan Ikhlasan, pada minggu sore tanggal 21
September 2008 kami menuju Panti Asuhan YAPPA yang terletak di
Jl.Pendidikan II / 4 Sidakarya BALI.

YOk… berkumpul doloww di rumah lulutzz. Sore kemaren kebetulan cuman
beberapa rekan aja yg datang, biasa mo lebaran pada persiapa kali yah,
ato ngebut cari tambahan buat beli bensin mudik, Kolik, Lulut, Mas
Mahmud, Mbak Dina, Lely, noped, Andik, Ria ( Selalu ikud niy, kompak
abiss ).

Setelah rembukan, itong itongan dana yg udah terkumpul dengan
Bendaharum Laros Bali ( Lely ) akhirnya kami berangkat menuju Panti,
tapi sebelumnya belanja dulu.
Panti asuhan YAPPA II ini sudah berdiri sejak tahun 2002 Dan dihuni oleh 20 Anak Perempuan semua

Selengkapnya disini


DUA OPSI BUAT PGRI BANYUWANGI

DUA OPSI BUAT PGRI BANYUWANGI
Oleh: Agus Safari, S.Pd

DEMO yang dilakukan oleh Persatuan Guru Republik Indonesia mencerminkan wajah-wajah dunia pendidikan di Banyuwangi. Dapat bersama kita ketahui dengan jelas, wajah-wajah guru kita yang dalam istilah Jawa adalah sosok yang patut di-”gugu” dan di-”tiru”. Di manakah letak kepatutan itu, jika pada kenyataannya para guru kita yang tergabung dalam PGRI masih mengambil peran organisasi yang lebih bersifat politis? Bukan berarti harus kita naifkan bila seorang guru menyentuh wilayah politik. Namun menjadi ironi jika lantas para guru kita terlampau masuk dalam wilayah politik dengan mengatasnamakan profesinya sebagai seorang guru. Demo yang dilakukan guru beberapa hari yang lalu ke gedung DPRD Banyuwangi, memberikan gambaran yang riil, bahwa dunia pendidikan di Banyuwangi yang selama ini dibangga-banggakan oleh semua kalangan, ternyata menyisakan kepedihan dan ketidakberesan. Itulah karenanya, eksekutif sangat bergairah memakai isu dunia pendidikan untuk melegitimasi kekuasaan politiknya. Kenapa? Karena, mau tak mau, pendidikan adalah kebutuhan vital masyarakat serta para guru di Banyuwangi memiliki jumlah yang cukup banyak. Isu perhatian terhadap dunia pendidikan bukan lagi barang baru. Pemerintahan Ratna Ani Lestari, SE.,MM yang hendak memberikan perhatian bagi dunia pendidikan formal di Banyuwangi, masih merupakan isapan jempol belaka. Buktinya, lima tuntutan PGRI Banyuwangi yang sepenuhnya menjadi tanggungjawab eksekutif setelah disahkan melalui proses legislasi di DPRD Banyuwangi, belum samasekali terealisasi dengan jelas.
+ READ MORE


« Previous Entries  
Your Ad Here Your Ad Here Your Ad Here