Melihat Persiapan Duta Seni Banyuwangi di TMII
Rekrut Sepuluh Petani Menjadi Aktor Teater Rengganis
Berbagai persiapan dilakukan oleh duta kesenian Banyuwangi yang tampil dalam pergelaran seni budaya di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Tim tersebut melibatkan tiga sanggar tari sekaligus, yakni Tawang Alun, Sidopekso, dan sanggar tari Jinggo Sobo. Mereka memoles petani menjadi aktor dalam teater tradisional rengganis.
ALDILA AVRIKARTIKA, Jakarta
—
SEMINGGU sebelum berangkat menuju Jakarta, tiga sanggar tari yang dipercaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi sudah melakukan berbagai persiapan. Salah satunya, mempersiapkan penari dan jenis tari yang akan ditampilkan.
Tidak mau tampil asal-asalan, mereka rutin melakukan latihan selama satu minggu. Meski tarian tersebut sudah menjadi materi sehari-hari di sanggar, mereka tetap melakukan persiapan. Itu dilakukan agar mereka bisa menyajikan penampilan terbaik di hadapan ratusan warga Jakarta asal Banyuwangi.
Demi mengusung misi dan visi menampilkan kebudayaan dan kesenian Banyuwangi, penari yang didominasi pelajar itu mendapatkan dispensasi dari sekolah masing-masing. Mereka diizinkan tak masuk sekolah selama empat hari. Siang-malam mereka gunakan untuk latihan tari; mulai tari jejer gandrung, tari punjari, lukinto dan tari paju gandrung.
Panjak dan penata musik yang diusung juga tidak kalah siapnya. Sunar dipercaya menjadi penata musik kolaborasi angklung dan kuntulan. Selain itu, kontingen juga menyiapkan berbagai alat musik seperti jidor, patrol, dan peralatan lain.
Kostum seluruh penari juga tidak ketinggalan. Untuk kostum memang sudah disiapkan jauh hari. Sebab, kostum merupakan hal terpenting dalam penampilan suatu pertunjukan. Tiga penata rias dari masing-masing sanggar juga siap untuk berangkat.
Sahuni, koreografer tim seni Banyuwangi mengemas pergelaran secara apik. Dia mencoba memoles seni drama Banyuwangi yang sudah nyaris punah, yakni rengganis. Lantaran tidak memiliki pemain tetap, Sahuni langsung merekrut beberapa petani di Kecamatan Singojuruh. Mereka diajari dan dijadikan sebagai aktor teater rengganis.
Setelah mengumpulkan sepuluh petani, mereka langsung melakukan latihan keras selama lima hari. Mereka berlatih seolah tak mengenal waktu. Sahuni yang juga mantan pemeran utama Umar Moyo dalam teater rengganis itu langsung mempersiapkan naskah dan bahasa yang digunakan. Di dalam seni teater rengganis tersebut, mereka juga menampilkan pelawak, Mas Pethul dan Gandu, yang berperan sebagai abdi dalem Umar Moyo.
Setelah melakukan latihan, mereka siap berangkat ke Jakarta. Dalam perjalanan ke Jakarta, mereka tidak henti-hentinya menghapalkan dialog. Gandu juga menghapal lagu berjudul “Lupa Lupa Ingat” yang dibawakan oleh grup band Kuburan.
Sementara itu, sepuluh aktor rengganis tidak berkutik selama perjalan Banyuwangi-Jakarta. Sepuluh petani itu tidak tahan hawa dingin yang dikeluarkan AC di dalam bus. Praktis, selama perjalanan panjang tersebut, mereka lebih banyak berlindung di balik sarung.
Perjalanan yang panjang dan penuh perjuangan itu ternyata tidak menyurutkan semangat mereka. Meski perjalanan yang ditempuh cukup lama, yakni 26 jam, mereka selalu tertawa dan bercanda. Bahkan, mereka berdecak kagum melihat pemandangan di Semarang, Tuban, dan kota -kota lain.
Memasuki daerah Pemanukan, bus yang berisi 60 penumpang itu sempat mogok. Tak ayal, para aktor rengganis yang juga petani Singojuruh itu turun. Mereka terperanjat setelah melihat pemandangan sepanjang daerah Pemanukan yang ternyata penuh wisma dengan layanan plus-plus.
Di depan wisma tersebut, para perempuan pekerja seks nongkrong dengan kostum menantang. Ada yang mengenakan baju yang super ketat sambil merokok. ”Saya kaget melihat itu. Sebab, saya tidak pernah bepergian jauh hingga Jakarta,” ujar Suparman, seorang aktor teater rengganis.
Setibanya di TMII Jakarta, wajah letih dan lesu karena perjalanan panjang sudah tak terlihat lagi. Mereka langsung mengangkut seluruh alat musik, kostum, dan perlengkapan, ke dalam Anjungan Jawa Timur. Setelah istirahat selama enam jam, seluruh penari dan pemain rengganis melakukan geladi resik hingga pukul 23.00. Beberapa kali mereka melakukan latihan hingga siap tampil seratus persen.
Minggu pagi, sejak pukul 03.00, seluruh pemain menghias diri. Meski petani, mereka sangat percaya diri ketika hendak tampil. Tak ayal, penampilan mereka langsung mendapatkan aplaus dari undangan yang hadir.
Sahuni mengatakan, meski hanya lima kali latihan, penampilan mereka sangat bagus. Mereka layak mendapatkan apresiasi dari seluruh warga Banyuwangi. Oleh karena itu, mereka ingin menampilkan rengganis dalam acara serupa tahun depan.
Rengganis merupakan seni teater tradisional Banyuwangi yang sudah punah. Dengan tampilnya kesenian itu di Jakarta, mampu membuat warga Banyuwangi yang tinggal di ibukota menyadari kekayaan budaya Banyuwangi. Bumi Blambangan ternyata tak hanya kaya seni tari, Banyuwangi juga punya seni teater rengganis yang sarat pesan moral. ”Rencana ke depan, saya akan membuat grup rengganis. Dengan begitu, anak cucu kita bisa mengetahui bahwa Banyuwangi kaya akan seni dan tradisi,” kata Sahuni.
Sementara itu, Kabid Kebudayaan pada kantor Disbudpar Banyuwangi, Dariharto, mengaku bangga dengan kekompakan sanggar-sanggar seni di Banyuwangi. Sebab, mereka bisa mengangkat seni tradisi rengganis yang nyaris punah. Padahal, tontotan tersebut mengandung banyak tuntunan. ”Saya bangga bisa menampilkan seni tradisi tersebut,” katanya. (bay)
Sumber Jawa Pos














