Mengintip Kesibukan Para Perias Pawai Budaya
Parkiran Jadi Dapur Umum, Berdandan di Musala
Pawai budaya yang digelar di lapangan terbang (lapter) Blimbingsari, tak hanya membuat peserta dan penonton repot. Para perias terpaksa harus rela menginap di sekolah dasar dan Balai Desa Blimbingsari.
ALDILA AVRIKARTIKA, Banyuwangi
—
PENUH sesak dan panas. Itulah kesan pertama ketika memasuki kantor Balai Desa Blimbingsari, Kecamatan Rogojampi. Kain berwarna hijau dan merah muda, digunakan sebagai penutup Pendapa balai desa tersebut.
Di tempat parkir balai desa digunakan sebagai dapur umum. Kompor gas, panci, alat penggorengan lengkap di dapur umum tersebut. Juru masak juga selalu siap berada di dapur tersebut.
Di musala balai desa digunakan tempat rias dari kontingen pelajar. Ada yang duduk di jendela, ada yang tiduran hingga ada yang berganti baju di dalam musala tersebut.
Di balai desa itulah, penari dan penata rias dari Sanggar Sayugringsing asuhan Subari Sofyan bermalam selama dua malam. Subari menyimpan seluruh kostum, make up, hingga peralatan yang digunakan untuk meramaikan pawai Pelangi Budaya di balai desa tersebut. Mereka pun harus rela tidur sekadarnya. Mereka tidur di atas karpet di pendapa desa tersebut.
Salah satu penata rias, Lalu Rahman mengatakan, dirinya merasa khawatir acara tersebut tidak ada penontonnya. Karena, pawai ini baru pertama kali diselenggarakan di kawasan sekitar lapter Blimbingsari. ”Aku khawatir, kalau tidak ada yang melihat soalnya di dekat areal persawahan,” cetusnya.
Cuaca yang panas tampaknya, membuat seluruh penari merasa kepanasan. Agar tidak mengubah pakem kostum penari, seluruh penari memakai sandal plastik setelah itu dibungkus oleh kaus kaki berwarna putih. ”Panas juga sih, tapi tidak apa-apa kan sudah memakai kaus kaki,” ujar Rina, salah satu penari Sayuwiwit.
Tidak hanya penari sendratari Sayu Wiwit yang tinggal di balai desa tersebut.
Sebanyak 45 mahasiswa jurusan seni drama tari dan musik Fakultas Bahasa dan Seni di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) juga bermalam di balai desa tersebut. Sebagian mahasiswa juga ada yang bermalam di SDN 1 Watukebo. Selama tiga hari tinggal di kawasan sekitar lapter, mereka melakukan latihan kolaborasi musik yang dipadukan dengan musik khas Banyuwangi.
Pendamping mahasiswa Unesa, Eko Wahyuni Rahayu mengatakan, pawai budaya kali ini terkesan eksklusif tetapi kurang memasyarakat. Karena diselenggarakan di lokasi yang tempatnya sangat jauh dari pusat kota.
Menurut Eko, tata artistiknya dan persiapannya kurang. Panitia tampaknya belum memaksimalkan persiapan Pawai Pelangi Budaya. Namun ada juga segi positifnya, yakni masyarakat bisa melihat lapter yang dimiliki Banyuwangi.
Sementara itu, usai make up seluruh peserta diangkut satu per satu menuju garis start. Satu sepeda motor diisi tiga orang. Satu pengemudi dan dua orang penari, begitu seterusnya hingga seluruh penari berkumpul menjadi satu di depan podium undangan. Setelah menunggu beberapa jam, pawai diberangkatkan pukul 13.00. (bay)
Sumber Jawa Pos














