Puter Kayun Hanya Diikuti Tiga Dokar
BANYUWANGI-Warga Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, tetap setia merayakan tradisi unik setiap tanggal 10 Syawal pada penanggalan Jawa. Tradisi tahunan itu bernama Puter Kayun. Sayangnya, acara tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun lalu, Puter Kayun diikuti puluhan dokar atau delman, maka tahun ini hanya diikuti tiga dokar. Penyebab sepinya peserta, karena tidak ada lagi bantuan anggaran dari Pemkab Banyuwangi.
Praktis, kemarin (29/9) hanya tiga dokar yang menempuh perjalanan belasan kilometer itu. Meski sepi peserta, para keluarga yang diangkut tiga dokar itu tampak bersemangat. Sepanjang jalan dari Boyolangu hingga pantai Watudodol, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, para penumpang dokar itu tampak gembira.
Meski tidak ada puluhan dokar yang mengangkut seperti tahun lalu, warga Boyolangu tetap mengikuti tradisi tersebut. Bersama seluruh anggota keluarga, mereka tetap berwisata di pantai Watudodol. Tak ketinggalan keluarga para kusir dokar. Tampaknya, ratusan warga itu tidak ingin tradisi yang sudah berumur ratusan tahun itu hilang begitu saja. Apapun kendalanya, meski tidak ada bantuan anggaran sekalipun, tidak menghalangi mereka untuk melestarikan tradisi sebagai ajang silaturahmi itu.
Keluarga tiga kusir yang mengendarai dokar itu mengunjungi Watudodol dengan membawa berbagai makanan dan kue Lebaran. Tak ketinggalan, ratusan warga lain yang mengiringi rombongan dokar itu. Bersama keluarga, mereka berkonvoi mengendarai mobil bak terbuka dan sepeda motor. Sesampai di lokasi, mereka bersama-sama menuju pantai sambil membawa segala perbekalan yang sejak awal disiapkan.
Perayaan Puter Kayun kemarin benar-benar beda dari sebelumnya. Biasanya sesampai di pantai, warga Boyolangu itu melakukan selamatan tumpeng secara masal. Namun, kali ini selamatan tumpeng sengaja ditiadakan. Pasalnya, banyak pemilik dokar yang tidak ikut lantaran tidak ada lagi bantuan dana dari pemkab. Padahal, perayaan tradisi yang diperkirakan menghabiskan dana puluhan juta rupiah, itu sudah masuk dalam kalender wisata Kabupaten Banyuwangi.
Namun, tudingan nihilnya bantuan dana sebagai pemicu sepinya peserta, dibantah oleh pihak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi. Kabid Kebudayaan Disbudpar Banyuwangi Dariharto menegaskan, kegiatan itu bukan gagal. Buktinya, dokar dan seluruh warganya sudah berangkat menuju pantai Watudodol. Memang diakui, kali ini hanya diikuti tiga dokar. “Karena memang kurangnya koordinasi antarmasyarakat setempat,” dalihnya kemarin.
Dia membantah, kalau sepinya tradisi Puter Kayun itu diakibatkan tidak adanya anggaran dari pemerintah. ”Ini kan acaranya warga, bukan acara kabupaten,” sergahnya.
Rugito, kusir dokar mengungkapkan, sepinya kegiatan itu disebabkan perpecahan panitia. Selain itu, anggaran dari pemkab tidak turun, karena proposal kegiatan terlambat masuk ke pemkab. ”Padahal, ini sudah menjadi agenda wisata,” sesalnya.
Meski sepi, kemarin warga tetap merayakannya dengan rasa sukacita. Setelah menyantap semua makanan yang dibawa dari rumah, mereka menghabiskan waktu dengan mandi di laut hingga sore hari. Mereka berharap, dengan mandi di laut, bisa mendapat berkah dari Tuhan. Misalnya, tetap diberi kesehatan agar bisa bekerja kembali menjadi kusir dokar, dengan rejeki melimpah. (lla/irw)
Sumber Radar Banyuwangi














