Siswa Diajari Karawitan dan Wayang Kulit
Kiat SDN 5 Jajag Pertahankan Kesenian Daerah
SDN 5 Jajag, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi cukup gigih mempertahankan kebudayaan daerah. Selain memasukkan pelajaran Bahasa Jawa dalam muatan lokal, sekolah ini juga melatih siswanya musik karawitan dan mengenalkan wayang kulit.Suara gamelan terdengar cukup merdu dari pojok sekolah yang berada di Dusun Jatisari, Desa Jajag, Kecamatan Gambiran ini. Alunan nada yang dimainkan, membuat orang yang paham gending Jawa, bisa spontan menganggukkan kepala.
Meski sesekali terdengar ada nada gamelan hambar, karena not yang salah, tapi suara gamelan itu masih cukup lumayan untuk menghibur. “Jangan ngelamun, lihat notnya itu apa,” ujar guru sekaligus pelatih gamelan tersebut.
Dasar anak-anak, meski sudah sering diingatkan, masih saja banyak yang keliru. Sambil memelototi not dan jenis gamelan, para siswa itu terus menabuh alat musik tersebut. “Mereka sebagian besar masih kelas tiga. Jadi latihannya masih kurang,” kata Ponidi, guru pendamping seni karawitan di sekolah itu.
Melatih siswa bermain gamelan atau seni karawitan, ternyata dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan ekstra. Untuk bisa mahir, biasanya dibutuhkan waktu enam bulan hingga setahun. “Kelas tiga sudah mulai latihan. Nanti ketika sudah kelas enam, mereka sudah agak mahir,” terang Ponidi yang terlihat setia mendampingi anak didiknya.
Untuk melatih bermain gamelan, para siswa itu awalnya hanya diajarkan not. Bila sudah hafal, mereka dikenalkan gamelan dan cara menabuhnya. “Gending yang kita ajarkan itu selendro dan pelok,” jelasnya.
Musik gamelan, bagi SDN 5 Jajag termasuk kegiatan ekstrakurikuler yang diutamakan. Selain itu, para siswa juga dilatih band dan qasidah. “Di SDN 5 Jajag, bermain gamelan termasuk ekstrakurikuler yang prioritas. Karena ini untuk mempertahankan kesenian daerah,” tutur guru pelajaran Bahasa Jawa ini.
Dalam seni karawitan yang diajarkan ini, sekolah telah menyiapkan aneka jenis gamelan seperti bonang, gong, kendang, gembang, dan saron. Dari berbagai jenis musik tradisional Jawa ini, mencari penabuh kendang termasuk yang paling sulit. “Biasanya, kendang ini dimainkan oleh gurunya,” katanya.
Karawitan hasil besutan sekolah ini, bukan hanya mencetak penabuh gamelan. Tapi, sekolah juga mencetak sinden atau penyanyi Jawa. Beberapa gending Jawa seperti srempeg, jurang jero, rujak jeruk, dan gugur gunung menjadi andalan siswa. “Gending-gending lain, juga banyak yang telah dikuasai,” ujarnya.
Melalui karawitan ini, sekolah bersama lingkungan telah memiliki kelompok wayang kulit khusus anak-anak. Setiap ada kegiatan sekolah, karawitan dan wayang kulit siswa itu dipentaskan. “Mereka juga pernah diundang oleh lingkungan yang sedang ada acara,” ujarnya.
Agar tidak mengganggu belajar siswa, kegiatan latihan karawitan itu biasanya dilakukan setelah pulang sekolah atau pada hari libur. Mereka paling sering berlatih pada hari Jumat dan Minggu. “Siswa yang kami prioritaskan, mulai kelas tiga hingga kelas lima. Untuk siswa kelas enam sudah kami pensiunkan,” bebernya.
Melalui seni karawitan dan wayang kulit ini, kata Ponidi, sekolah berharap para siswa bisa lebih mengenal musik daerah. Selain itu, para siswa juga diharapkan mencintai seni dan budaya daerah di tengah merebaknya musik modern saat ini. (bay)
Foto: AGUS BAIHAQI/Radar Banyuwangi
















Baguus………… Kegiatan seperti ini yang harus kita laksanankan di seluruh sekolah di banyuwnagi, mulai tingkat dasar sampeai perguruan tinggi. Banyuwangi kaya akan budaya…tapi yang melestarikan kian sedikit… AYo kita dukung dan bantu melestarikan budaya dan kesenian asli banyuwangi…