Tradisi Rebo Wekasan di Pantai Waru Doyong, Bulusan.
Sapi Mahal, Cukup Larung Kepala Kambing

SESAJI: Perahu cilik yang akan dilarung di Selat Bali oleh nelayan pantai Waru Doyong, Kelurahan Bulusan.
Masyarakat nelayan di pantai Waru Doyong, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, selalu menggelar tradisi Rebo Wekasan. Pada hari Rabu terakhir di bulan Sapar pada kalender Jawa itu, mereka menggelar ritual larung sesaji kepala kambing.Suasana pantai Waru Doyong pagi itu tampak berbeda dari biasanya. Pada hari biasa, hanya ada beberapa perahu yang parkir. Jumlah nelayan yang berada di pantai tersebut biasanya juga segelintir orang saja.
Namun, pagi itu ratusan orang berbondong-bondong mendatangi pantai tersebut. Maklum, mereka ingin merayakan tradisi Rebo Wekasan. Warga ingin menyaksikan ritual larung sesaji dan lomba perahu layar.
Hari itu memang merupakan hari spesial bagi kampung nelayan di sebelah selatan Pelabuhan Ketapang itu. Sejak pagi, jalan masuk ke areal tersebut sudah dijaga dua unit Patwal polisi. Setelah memasuki kawasan pinggir pantai, tampak berdiri panggung dan kursi yang sudah tertata rapi untuk para undangan.
Tidak hanya itu, tikar berukuran besar juga sudah terpasang. Tumpeng dan beberapa jajan-pasar sudah ditata rapi, termasuk air minum yang ditempatkan khusus di dalam kendi. Tepat pukul 09.00, acara selamatan pun dimulai. Setelah membaca doa, para nelayan yang sudah berkerumun di depan tumpeng langsung melakukan makan bersama.
Setelah acara selamatan selesai, beberapa keluarga nelayan langsung menaiki perahu masing-masing. Mereka beramai-ramai melarung sesaji pribadi milik mereka. Kapal patroli TNI AL terlihat mondar-mandir ikut mengawal dan menjaga keamanan sekitar pantai.
Acara puncak pun tiba. Sesaji yang berbentuk perahu mini itu akan dilarung. Di dalam perahu mini itu terdapat kepala kambing. Seluruh warga berebut memegangi perahu mini itu. Mereka beramai-ramai mengawal perahu sesaji tersebut hingga ke tengah laut. Sesampainya di tengah laut, sesaji tersebut langsung diceburkan.
Sekitar pukul 13.00, lomba perahu layar mulai digelar. Puluhan nelayan ikut berpartisipasi dalam lomba layar untuk memeriahkan tradisi Rebo Wekasan tersebut. Mereka juga ingin perahu mereka tampil menjadi yang tercepat di Selat Bali tahun ini
Ketua RT Pantai Waru Doyong, Sujarno, mengatakan bahwa tradisi tersebut sudah diselenggarakan sejak tahun 2000. Awalnya, nama tradisi itu bukan Rebo Wekasan. Dulunya, warga menyebut selamatan tersebut Sapar-Saparan. Sebagai bentuk pelestarian budaya dan permohonan kepada Sang Pencipta, mereka mengapresiasikannya dalam bentuk selamatan. Tujuannya, agar para nelayan selalu diberikan keselamatan dan rezeki-ikan yang melimpah setiap berlayar. Ini karena sebagian besar penduduk Bulusan berprofesi sebagai nelayan.
Sementara itu, malam-hari sebelumnya juga telah digelar pengajian akbar. Kegiatan tersebut melibatkan seluruh warga Bulusan dan 380 orang nelayan. Baru pada pagi harinya, larung kepala kambing itu dilakukan. ’’Bulusan ini kampung nelayan kecil, sehingga menggunakan sesaji kepala kambing biar lebih murah. Berbeda dengan (tradisi petik laut) di Muncar yang merupakan pangkalan besar nelayan. Semua jadi lebih besar, sehingga mereka menggunakan sesaji kepala sapi,’’ jelasnya.
Menurut Sujarno, jumlah nelayan di Bulusan dulunya sangat banyak. Namun, Sejak perahu dilarang mendarat di Bulusan, karena ada jaringan kabel bawah laut, pesisir itu kini menjadi lebih sepi. Sebagian nelayan Bulusan harus hijrah ke Muncar. (bay)
FOTO: Aldila Avrikartika/Radar Banyuwangi















ya…wlo kurangs setuju, namun itu tetap kekayaan yang dimiliki Banyuwangi… Thanks